long weekend
Wednesday, August 16th, 2006You know what? Whoever said that being single is a blessing must have been the one who invented cyanide capsule.
You know what? Whoever said that being single is a blessing must have been the one who invented cyanide capsule.
Jadi semuanya punya ipod ya sekarang? Ah sungguh iri saya.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Nam eu dui eu magna cursus semper. Donec sem justo, molestie at, porta a, vulputate quis, metus. Aenean ut ipsum. Etiam convallis, nulla quis feugiat sollicitudin, sem tortor nonummy metus, et iaculis nunc mauris vitae est. Quisque eget dui at sapien rhoncus bibendum. Nulla at quam id sapien auctor tempus. Sed accumsan, est nec rutrum mollis, erat diam luctus sem, sed ultrices tellus magna id tellus. Nulla ornare accumsan sem. Nunc vitae ante. Cras vulputate blandit libero. Praesent id augue. In tempor ornare urna. Cras ac tortor. Integer rutrum viverra turpis. Praesent sed magna. In non tellus. Etiam vulputate ipsum imperdiet sem. Nullam metus mi, lacinia in, tincidunt eu, dignissim in, orci. Integer pharetra. Morbi ornare felis nec quam vestibulum feugiat.
Perkawinan itu menyeramkan kelihatannya. Coba bayangkan. Hidup serumah, sekamar, sedipan, senasib dan sepenanggungan. Asuransi pendidikan, asuransi kesehatan, asuransi mobil, rumah dan asuransi jiwa. Tentu saja tidak ada yang bisa mengalahkan horor yang disebabkan oleh dua garis merah.
Tanyakan deh pada mereka yang telah tanda tangan, pertanyaan-pertanyaan apa yang berkelebat di kepala mereka sebelum keputusan diambil. Semacam: Apakah saya bisa tahan hidup dengannya? Bagaimana saya bisa membiayai kehidupan kami? Mau tinggal dimana nanti? Lho kok sudah hamil? Ini anak siapa? Ya seperti saya bilang, pertanyaan semacam itulah . . .
Mau tidak mau dipaksa kita untuk takut. Siapapun pasti merasa hal yang sama di hadapan tanggung jawab sebesar itu, apalagi kalau dalam keadaan dipaksa bertanggung jawab.
Lalu saya berpikir, pemikiran yang pendek dan sederhana saja, mengenai ketakutan untuk pasang-memasang cincin ini. Saya pikir, wajar lah kalo kita merasa takut atau belum siap, bahkan bila kita sudah berumur atau bahkan sudah pernah menikah. Rasanya seperti masuk ke kamar yang asing dan lampu dimatikan semua. Apakah kamar tersebut berperabot Da Vinci atau perabot bekas gusuran manalah kita tahu. Takut.
Namun, semakin kita takut, seharusnya semakin tenanglah kita. Karena rasa takut itu akan membuat kita semakin berhati-hati. Kita tahu sendiri apa yang tidak boleh terjadi, dan kita akan berusaha agar hal tersebut tidak terjadi. Ketakutan akan memeta jalan menuju tanggung jawab.
Maka dari itu, saat ketakutan akan perkawinan sedang besar-besarnya, itulah saatnya untuk kirim undangan. Begitu saja.
Setelah saya berpikir begitu, kini tenanglah saya. Ketakutan saya beralasan dan bisa dimanfaatkan. Hilang sudah satu masalah. Kini cuma tinggal satu masalah lagi . . . .
Sejak kecil saya bukanlah orang yang suka menengadah ke atas. Padahal Ibu saya yang tidak kenal lelah selalu berusaha mendorong dagu saya untuk belajar mendongak.
Menjelang dewasa semakin tidak ingin saya untuk menengadah. Semakin saya, yang mulai berpikir macam-macam, tidak percaya bahwa menengadah ke atas bagus untuk kesehatan. Hal ini ditambah lagi dengan seringnya saya melihat mereka yang selalu ‘terlihat’ mendongak dan menengadah seringkali terjungkal dan menabrak tiang listrik atau pohon di pinggir jalan.
Kini, setelah saya sudah melewati seperempat, saya telah menjadi orang yang selalu melihat ke depan, dengan pengecualian melihat ke belakang di jam-jam tertentu. Apa yang ada di depan mata, itulah yang saya pedomani. Dan saya ajeg dengan hal itu. Walaupun begitu, Ibu saya, yang memang tidak kenal lelah, masih berusaha mengangkat dagu saya.
* * *
Bertentangan dengan apa yang saya takutkan, tidak bisa menengadak ke atas bukan berarti tidak bisa menunduk ke bawah