Menahan dagu
Sejak kecil saya bukanlah orang yang suka menengadah ke atas. Padahal Ibu saya yang tidak kenal lelah selalu berusaha mendorong dagu saya untuk belajar mendongak.
Menjelang dewasa semakin tidak ingin saya untuk menengadah. Semakin saya, yang mulai berpikir macam-macam, tidak percaya bahwa menengadah ke atas bagus untuk kesehatan. Hal ini ditambah lagi dengan seringnya saya melihat mereka yang selalu ‘terlihat’ mendongak dan menengadah seringkali terjungkal dan menabrak tiang listrik atau pohon di pinggir jalan.
Kini, setelah saya sudah melewati seperempat, saya telah menjadi orang yang selalu melihat ke depan, dengan pengecualian melihat ke belakang di jam-jam tertentu. Apa yang ada di depan mata, itulah yang saya pedomani. Dan saya ajeg dengan hal itu. Walaupun begitu, Ibu saya, yang memang tidak kenal lelah, masih berusaha mengangkat dagu saya.
* * *
Bertentangan dengan apa yang saya takutkan, tidak bisa menengadak ke atas bukan berarti tidak bisa menunduk ke bawah