Tukar Cincin

Perkawinan itu menyeramkan kelihatannya. Coba bayangkan. Hidup serumah, sekamar, sedipan, senasib dan sepenanggungan. Asuransi pendidikan, asuransi kesehatan, asuransi mobil, rumah dan asuransi jiwa. Tentu saja tidak ada yang bisa mengalahkan horor yang disebabkan oleh dua garis merah.
Tanyakan deh pada mereka yang telah tanda tangan, pertanyaan-pertanyaan apa yang berkelebat di kepala mereka sebelum keputusan diambil. Semacam: Apakah saya bisa tahan hidup dengannya? Bagaimana saya bisa membiayai kehidupan kami? Mau tinggal dimana nanti? Lho kok sudah hamil? Ini anak siapa? Ya seperti saya bilang, pertanyaan semacam itulah . . .
Mau tidak mau dipaksa kita untuk takut. Siapapun pasti merasa hal yang sama di hadapan tanggung jawab sebesar itu, apalagi kalau dalam keadaan dipaksa bertanggung jawab.

Lalu saya berpikir, pemikiran yang pendek dan sederhana saja, mengenai ketakutan untuk pasang-memasang cincin ini. Saya pikir, wajar lah kalo kita merasa takut atau belum siap, bahkan bila kita sudah berumur atau bahkan sudah pernah menikah. Rasanya seperti masuk ke kamar yang asing dan lampu dimatikan semua. Apakah kamar tersebut berperabot Da Vinci atau perabot bekas gusuran manalah kita tahu. Takut.

Namun, semakin kita takut, seharusnya semakin tenanglah kita. Karena rasa takut itu akan membuat kita semakin berhati-hati. Kita tahu sendiri apa yang tidak boleh terjadi, dan kita akan berusaha agar hal tersebut tidak terjadi. Ketakutan akan memeta jalan menuju tanggung jawab.

Maka dari itu, saat ketakutan akan perkawinan sedang besar-besarnya, itulah saatnya untuk kirim undangan. Begitu saja.

Setelah saya berpikir begitu, kini tenanglah saya. Ketakutan saya beralasan dan bisa dimanfaatkan. Hilang sudah satu masalah. Kini cuma tinggal satu masalah lagi . . . .

2 Responses to “Tukar Cincin”

  1. Q u z y w u z y Says:

    dasar penakut !! (ngaca.. QUz… ngaca……… hahahaha)

  2. tom Says:

    masalahnya adalah… mana pasangannyaaaaa????

Leave a Reply